Ekspor Industri Kerajinan Rotan Di Indonesia

 

EKSPOR INDUSTRI  KERAJINAN ROTAN DI INDONESIA

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah Bisnis Internasional

Oleh:

Edwin Cahya Ningrum Setyawati

D2D008028

PENDAHULUAN

Dengan segala kekayaan sumber daya alam yang dimiliki oleh negara Indonesia baik secara agraris, maritim sumber daya alam lainnya maupun dari segi sumberdaya manusia dengan jumlah yang banyak. Hal ini membuka peluang yang sangat besar bagi negara Indonesia untuk melakukan ekspor berbagai komoditi yang di miliki Indonesia ke negara lain. Seperti rotan yang adalah komoditi unggul yang di hasilkan oleh hutan-hutan terbaik di beberapa pulau di Indonesia.  Rotan berasal  dari bahasa melayu yang berarti nama dari sekumpulan jenis tanaman famili Palmae yang tumbuh memanjat yang disebut “Lepidocaryodidae”. Lepidocaryodidae berasal dari bahasa Yunani yang berarti mencakup ukuran buah. Kata rotan dalam bahasa Melayu diturunkan dari kata “raut” yang berarti mengupas (menguliti), menghaluskan (Menon, 1979 dalam Kalima, 1996).

Rotan merupakan salah satu sumber hayati Indonesia, penghasil devisa negara yang cukup besar. Sebagai negara penghasil rotan terbesar, Indonesia telah memberikan sumbangan sebesar 80% kebutuhan rotan dunia. Dari jumlah tersebut 90% rotan dihasilkan dari hutan alam yang terdapat di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan sekitar 10% dihasilkan dari budidaya rotan.

Menurut hasil inventarisasi yang dilakukan Direktorat Bina Produksi Kehutanan, dari 143 juta hektar luas hutan di Indonesia diperkirakan hutan yang ditumbuhi rotan seluas kurang lebih 13,20 juta hektar, yang tersebar di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Jawa dan pulau-pulau lain yang memiliki hutan alam.

Di Indonesia terdapat delapan marga rotan yang terdiri atas kurang lebih 306 jenis, hanya 51 jenis yang sudah dimanfaatkan. Hal ini berarti pemanfaatan jenis rotan masih rendah dan terbatas pada jenis-jenis yang sudah diketahui manfaatnya dan laku di pasaran. Diperkirakan lebih dari 516 jenis rotan terdapat di Asia Tenggara.

Dengan demikian sangat besar potensi hutan Indonesia untuk mengekspor hasil alamnya ke negara lain. Terutama ekspor produk dalam skala industri yang merupakan produk olahan dari rotan seperti tikar, lampit, keranjang, mebel dan lain sebagainya. Namun sayangnya kekayaan bahan baku rotan yang di miliki Indonesia tidak membuat ekspor industri kerajinan rotan semakin meningkat melainkan pada beberapa tahun belakangan ini menjadi melesu. Hal ini lah yang akan di bahas lebih mendalam dalam paper Bisnis Internasional ini.

PEMBAHASAN

Indonesia adalah penghasil rotan terbesar di dunia. Dengan demikian pemerintah maupun pihak swasta memanfaatkan kekayaan alam tersebut dengan mendirikan industri-industri kerajinan rotan. Rotah tidak hanya diekspor secara mentah atau setengah jadi melainkan dengan mengolahkan menjadi produk jadi. Dan hal ini sangat baik untuk pertumbuhan perekonomian Indonesia karena Indonesia mampu berdikari untuk menghasilkan produk-produk dari bahan baku rotan dan industri-industi kerajinan rotan ini mampu memberikan lapangan pekerjaan kepada masyarakat di area industri tersebut. Point positif lagi kerajinan rotan ini tidak hanya memenuhi permintaan dalam negeri melainkan sudah merambah kepada luar negeri. Berikut beberapa gambar produk kerajinan rotan.

Gambar 1.1 Tikar Lampit                   Gambar 1.2 Tas dari rotan Gambar 1.3 Keranjang

Dengan mengekpor produk rotan yang sudah di olah, ini memberikan nilai tambah bagi produk olahan rotan tersebut daripada produk rotan tersebut di ekpor secara mentah. Nilai jual produk kerajinan rotan tersebut akan jauh lebih tinggi. Produk kerajinan rotan banyak di minati oleh pasar domestik dan juga pasar internasional tidak heran jika kerajinan rotan Indonesia menjadi primadona di kancah internasional. Banyak yang menggandrungi kerajinan rotan tersebut sehingga banyak permintaan yang datang pada pengkrajin-pengkrajin pda industri kerajinan rotan tersebut. Dengan demikian devisa negara banyak diperoleh dari sumbangsih kerajinan rotan ini .

Namun sayangnya buruknya kinerja ekspor mebel rotan di Indonesia berdampak pada hancurnya industri  berbagai jenis rotan. Menurut informasi yang terdapat pada beberapa daerah yang menghasilkan kerajinan rotan seperti di Kalimantan, baik Kalimantan Selatan mauoun  Kalimantan Timur dan di Jawa, terutama Jawa Barat, Cirebon, mengatakan bahwa lesunya permintaan ekpor dari luar negeri. Dalam kapanlagi.com dikatakan Kerajinan rotan Kalimantan Selatan (Kalsel) kini semakin sulit bersaing di pasar nasional maupun internasional, terbukti permintaan ekspor kerajinan rotan dari daerah ini terus menurun. Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kalsel Subardjo di Banjarmasin, Rabu (21/10) mengatakan saat ini permintaan ekspor produk kerajinan rotan dari daerah ini tinggal 30%dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sebelumnya, barang kerajinan rotan asal Kalsel di antaranya lampit sempat menjadi primadona ekspor Kalsel ke China, Jepang dan berbagai negara lainnya.

Sedangkan informasi yang di muat dalam kompas.com, mengatakan bila dalam kurun waktu dua tahun terakhir ini, perkembangan idustri funiture rotan kurang menggembirakan. Sehingga  pemerintah daerah jawa barat sedang berupaya untuk mendongkrak kembali perkembangan industri rotan nasional, khususnya di Jawa Barat. Seperti juga yang dimuat dalam tribunjabar.co.id, CIREBON, TRIBUN bahwa Jumlah ekspor kerajinan rotan Cirebon dari tahun ke tahun terus mengalami penurunan. Sepanjang 2010 ini misalnya, angkanya hanya berkisar 500-600 kontainer per bulan, padahal pada 2005 lalu bisa mencapai 3.000 kontainer per bulan.

Data lain mengenai kinerja ekspor rotan di ambil dalam data Kementerian Perdagangan yang mencatat volume pengapalan kerajinan rotan periode Januari-Apri tahun 2010 sebanyak 1.605 ton naik 16% dibandingkan dengan tahun lalu 1.378 ton. Namun, rata-rata tren pertumbuhan ekspor kerajinan rotan sejak 2005-2009 turun 20%. Volume ekspor kerajinan rotan pada 2005 mencapai 11.527 ton, sedangkan pada 2009 hanya 4.395 ton. Hal yang sama juga terjadi pada ekspor furnitur rotan yang memiliki tren pertumbuhan ekspor 2005-2009 turun 8%. Volume pengapalan furnitur rotan selama Januari-April tahun ini 25.379 ton turun 12% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu 28.823 ton. Dengan demikian kita dapat melihat bahwa kinerja ekspor kerajinan rotan nasional mengalami tren penurunan, padahal sumberdaya alam rotan Indonesia sangat melimpah ruah.

Dengan kondisi ekspor rotan Indonesia yang terus mengalami penurunan pasti di sebabkan oleh berbagai macam faktor yang menyebabkan menurunnya ekspor kerajinan rotan tersebut. Berikut beberapa penyebab menurutnya ekspor rota Indonesia dan kerugian-kerugian yang di alami:

  • Para pengusaha rotan mengidentifikasi bahwa industri kerajinan rotan mulai mengalami penurunan Sejak dibukanya keran ekspor rotan sejak 2005, industri kerajinan dan furnitur rotan di dalam negeri kian terpuruk. Itu dapat terlihat dari kinerja ekspor produk kerajinan rotan yang terus menurun sejak 2004. Tren pertumbuhan volume ekspor kerajinan rotan 2004-2010 turun sebesar 18,8% per tahun, sedangkan dari sisi nilai turun sebesar 10,4%. Permintaan luar negeri tidak lagi pada kerajinan rotannya melainkan pada rotan bulat atau jenis irit dan rotan setengah jadi. Analisa kerugian dan dampak negatif dari kebijakan Ekspor Bahan Baku Rotan (bahan mentah) adalah:
  1. Tidak ada nilai tambah untuk ekspor rotan mentah, sebagaimana apabila rotan telah diolah menjadi produk seperti furniture dan aneka kerajinan lainnya. Yang tentunya akan memiliki nilai ekspor yang jauh lebih tinggi.
  1. Tidak ada tenaga kerja yang bisa diserap, yaitu tenaga kerja yang dibutuhkan untuk membuat kerajinan rotan. Karena proses pembuatan kerajinan rotan mengandalkan tangan manusia dan bukan mesin.
  2. Mematikan atau melemahkan usaha pengrajin/produsen kerajinan rotan, karena akan kekurangan stok bahan baku rotan. Seperti yang pernah terjadi ketika rotan mentah diijinkan untuk ekspor, banyak pengrajin rotan yang ikut mati usahanya, karena kelangkaan bahan baku rotan.
  3. Semakin melemahkan daya saing pengrajin/produsen/eksporter produk dari rotan Indonesia terhadap kompetitor dari Negara lain seperti China, Vietnam dan Malaysia. Hal ini disebabkan negara-negara kompetitor memiliki infrasruktur dan sarana untuk produksi dan perdagangan ekspor yang lebih maju serta dukungan kebijakan dari pemerintahnya, yang membuat produk bisa menjadi lebih murah di pasar internasional. Sementara pengrajin/produsen kita dibiarkan bersaing sendirian dengan sarana infrastruktur yang minim dan berbagai kebijakan pemerintah yang menyebabkan ekonomi berbiaya tinggi.
  4. Ekspor rotan mentah ternyata juga tidak akan menaikkan harga rotan mentah di tingkat petani rotan, dan hanya akan menguntungkan para tengkulak (pengepul rotan mentah dari petani rotan). Karena tidak ada regulasi dari pemerintah tentang pengadaan barang dan harga rotan, serta petani tidak memiliki posisi tawar yang cukup baik untuk menaikkan harga rotan mentah terhadap tengkulak.
  • China dan jepang yang pada mulanya adalah negara pengimpor kerajinan rotan asal Indonesia kini China dan Jepang lebih mengadakan impor dari Indonesia pada rotan mentah lalu untuk dijadikan produk kerajinan dan memasarkan ke seluruh dunia dan menggerus pangsa pasar produk sejenis asal Indonesia.  Pada akhirnya, produsen kerajinan rotan di dalam negeri se-makin terpuruk dan bangkrut. Terutama China merebut pangsa pasar indonesia, terutama dalam segi harga dimana produk kerajinan rotan China jauh lebih murah di banding produk kerajinan rotan  Indonesia.
  • Sedangkan menurut Yayasan Rotan Indonesia menilai penurunan ekspor furnitur dan kerajinan rotan disebabkan pelemahan permintaan dari luar negeri, bukan karena tidak tersedianya bahan baku di dalam negeri.  Seringkali meminta kerajinan asal rotan dengan spesifikasi tertentu yang sulit dipenuhi para perajin. Dan kemungkinan besar hal ini terjadi karena permintaan pasar luar negeri lebih banyak pada produk kerajinan rotan asal China.

Saat ini kesinambungan ekpor produk kerajinan rotan Indonesia sedang tertatih-tatih. Banyak industri yang telah gulung tikar dan banyak tenaga kerja atau pengkrajin yang meninggal kerajinan rotan ini karena permintaan yang datang tidak sebanyak dulu. Mereka lebih memilih melakukan bisnis lain yang lebih mengguntungkan atau malah mengekpor rotan mentah. Hal ini sangat berdampak buruk bagi para petani dan para pengkrajin lainnya yang telah bergantung pada industri kerajinan rotan tersebut.

ANALISIS SWOT

 

  • STRENGHT/KEKUATAN

Kekuatan yang di miliki oleh industri kerajinan rotan di Indonesia sebenarnya sangat besar. Walaupun dengan kondisinya yang saat ini sedang terpuruk. Kekuatan tersebut dilihat dari bahan baku rotan yang mudah dan masih banyak terdapat di Indonesia. Ini sebenarnya merupakan kekuatan tersendiri bagi industri kerajinan rotan. Walaupun saat ini kebijakan ekspor pemerintah terhadap rotan mentah dikatakan melemahkan kinerja ekspor kerajinan rotan. Ada baiknya saat pemerintah mengambil suatu kebijakan, kebijakan tersebut tepat dan tidak membuat suatu bagian menjadi melemah atau memburuk. Selanjutnya kekuatan yang di miliki bahwa tenaga kerja atau sumber daya manusia Indonesia yang mengolah produk kerajinan rotan ini pun sudah memiliki keterampilan. Dimana orang-orang Indonesia sudah memiliki keahliannya sejak jaman dahulu, dan terus berkembang hingga sekarang. Secara tidak langsung bagi mereka yang tinggal di suatu daerah yang memang di daerahnya menghasilkan rotan otomatis secara turun temurun akan di ajarkan oleh keluarganya untuk membuat kerajinan rotan seperti industri rotan di Kalimantan Selatan. Dan sumber daya manusia ini benar-benar di perhatikan agar terus berkembang dan tidak meninggalkan kerajinan rotan ini. Dan juga Tenaga kerja di Indonesia relatif lebih murah dibandingkan dengan negara-negara maju, sehingga membuat harga produk menjadi lebih kompetitif. Hanya negara-negara berkembang dan memiliki bahan baku rotan yang akan selalu menjadi kompetitor Indonesia seperti Vietnam, Myanmar, Thailand dan Philipina

  • WEEKNESS/KELEMAHAN

Meski demikian sektor industr kerajinan rotan yang berbasis padat karya ini belum dapat dioptimalkan sebagai salah satu pilar kekuatan ekonomi nasional yang memadai. Di sisi lain daya saing industri ini terus mengalami penurunan yang signifikan karena mahalnya biaya produksi sebagai akibat dari lemahnya kondisi infrastruktur penunjang serta iklim usaha yang tidak kondusif. Untuk me-recovey sektor ini mutlak diperlukan upaya dari semua pihak dengan program-program inovatif yang dapat mendorong bangkitnya kekuatan industri mebel dan kerajinan rotan nasional yang lebih maju dan bermartabat. Kurang adanya kreatifitas dan inovasi produk sehingga kurang terjadi pertumbuhan industri nasional yang lebih maju agar terjadi peningkatan nilai tambah dari setiap produk yang dihasilkan.

  • OPPURTUNITY/KESEMPATAN

Peluang yang masih di miliki oleh kerajinan rotan Indonesia dalam mengekpor produknya di tengah kondisi ekspor yang memburuk adalah kerajinan rotan memiliki peluang pasar yang besar di luar negeri. Masih banyak negara-negara luar yang mengingini produk kerajinan rotan Indonesia dengan kekuatan-kekuatan yang di miliki oleh kerajinan rotan seperti yang telah di jelaskan di atas.

  • THEART/TANTANGAN

Tantangan dari ekspor kerajinan rotan Indonesia datang dari Kementerian Perdagangan Indonesia sendiri yang membuat kebijakan tentang diperbolehkannya ekspor rotan mentah. Lalu persaingan produk kerajinan rotan Indonesia dengan produk-produk kerajinan rotan dari negara lain seperti China yang saat ini mulai menyaingi Indonesia atau negara-negara lainnya.

KESIMPULAN

Dengan kinerja ekspor kerajinan rotan yang terus menurun hendaklah semua pihak bekerja sama untuk memulihkan keadaan ini. Terutama pemerintah dimana munculnya kebijikan ekspor rotan mentah di katakan turut menjadi penyebab terjadinya penurunann ekspor kerajinan rotan. Adapun yang mampu dilakukan adalah agar terus berusaha untuk mengembangkan industri kerajinan rotan dengan;

  • Melihat bahan baku rotan sebagai sebuah asset yang memiliki nilai strategis untuk menguasai pasar kerajinan rotan di dunia. Sehingga menjualnya ke luar negeri lebih baik sebagai produk dan tidak menjualnya dalam keadaan bahan mentah karna ini sebuah kesalahan dalam konteks manfaat yang sebesar-besarnya untuk kepentingan rakyat.
  • Melihat rotan sebagai asset yang mempunyai nilai tambah dan sumber daya alam yang bisa membuka lapangan pekerjaan dan menarik investasi. Menarik investasi untuk pengembangan ekspor produk jadi rotan, bukan untuk ekspor rotan mentah.
  • Memperbaiki infrastruktur maupun sarana yang berkaitan dengan pengembangan produksi dan ekspor kerajinan rotan. Salah satu hal yang mendesak adalah membuat pergudangan untuk stok rotan yang dibeli dari petani rotan, sehingga akan berdampak pada : Rotan tidak menumpuk pada petani, menghilangkan penyelundupan rotan mentah ke luar negeri, petani rotan di untungkan dengan harga dari pemerintah, dan bukan dari tengkulak dan pengrajin/produsen rotan mudah mendapatkan bahan baku rotan.
  • Mengatasi ekspor illegal atau penyelundupan rotan mentah ke luar negeri, yang jelas-jelas merugikan bangsa dan rakyat Indonesia.
  • Membantu penelitian dan pengembangan bahan baku rotan agar tetap lestari dan berkelanjutan.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.export-import-indonesia.com/blog/keluhan-petani-rotan.html

http://www.mmfaozi.com/peluang-ekspo-bisnis-kerajinan-rotan.html

http://www.dephut.go.id/files/SARI%20HASIL%20PENELITIAN%20ROTAN.pdf

http://klasik.kontan.co.id/industri/news/16970/Indonesia-Kaya-Bahan-Baku-Rotan-Miskin-Produk-Olahan-Rotan 4

http://www.beritadaerah.com/news.php?pg=berita_kalimantan&id=21811&sub=column&page=7

http://www.banjarmasinpost.co.id/read/artikel/2010/10/11/59041/hubungikami

http://dennymedia.wordpress.com/2010/06/19/industri-lampit

http://www.us.detiksport.com/read/2008/18/4/095254//98832/83/kuota-ekspo-rotan-dievaluasi

                                                  www.rotanindonesia.co.id

www.bataviase.co.id

                                                     www.temporaktif.com

http://www.ratta-amkri.com

About these ads

Satu pemikiran pada “Ekspor Industri Kerajinan Rotan Di Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s